Saturday, April 13, 2013

Peran Strategis Dakwah Kampus dalam Mengusung Khilafah Sebagai Solusi



Oleh: Rizqi Awal El-Palembani**
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104)

            Tali ikatan islam dan hubungan sejarah yang melekat dengan masyarakat Palembang di masa silam, telah membuktikan bahwasannya daerah Sumatera Selatan pernah dekat dengan Kekhilafahan. Seperti dikisahkan oleh penulis Arab yaitu Ibnu Rusta (900 M), Sulaiman (850 M) dan Abu Zaid (950 M), maka hubungan dagang antara Khalifah Abbasiyah (750 M – 1268 M) dengan kerajaan Sriwijaya tetap berlangsung. Khusus untuk kawasan Sumatera Selatan, masuknya Islam selain oleh Bangsa Arab pedagang utusan dari Dinasti Umayyah (661 – 750 M) dan Dinasti Abbasiyah (750 – 1268 M) juga pedagang Sriwijaya sendiri berlayar kenegara-negara Timur Tengah.
            Kerinduan tanah Sriwijaya untuk hidup dalam naungan islam begitu besarnya. Terlalu banyak hal-hal yang telah menyatu dalam kebudayaan, sosial dan politik antara masyarakat Sumatera Selatan dengan islam. Kerinduan itu semakin menjadi-jadi, tatkala kini negeri ini semakin terlihat suram penuh kegelapan. Beribu masalah terjadi. Beribu derita terlahir.
            Wahai Anak Muda Keturunan Sriwijaya Islam!
            Di pundak kita hari ini, harapan perubahan menanti. Sudah banyak catatan merah dan luka menganga di negeri ini. Pemimpin yang tak amanah menambah beban dan kesusahan rakyat. Sudah berapa jejak langkah perubahan yang diusahakan namun menemui jalan buntu kebangkitan .
            Kita mengenal jelas, bahwa anak-anak muda intelektual memiliki peran penting dalam sejarah perubahan dan kemerdekaan di negeri ini. Tahun 1945, gagasan dan desakan untuk merdeka dilakukan oleh sekelompok pemuda di Rengasdengklok setelah melakukan upaya penangkapan pada para tokoh bangsa. Kita juga mengenal saat jatuhnya Orde Lama tergantikan pada orde baru. Dengan Tritura sebagai isu yang diangkat, angkatan yang dahulu dikenal dengan angkatan 66. Saat rezim Soeharto jatuh, mahasiswa turun ke jalan. Peristiwa semanggi berdarah telah menjadi bukti dari tragedy reformasi 1998.
            Hingga hari ini kita belum menemukan jalan dan solusi tuntas atas problematika kebangsaan hari ini. Berbagai bentuk dan metode pemerintahan yang berbasis pada Nasionalisme dan Ideologi manusia tak mampu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan. Sementara itu, masyarakat mengalami krisis kepercayaan dan keputus-asaan dengan adanya gelombang derita yang berkepanjangan.
Wahai Anak Muda Muslim Melayu!
            Saat ini, Mahasiswa dan organisasi dakwah harus menyatukan visi besar. Mengangkat Maruah, menjunjung kehormatan dan meninggikan ajaran Islam adalah paduan yang tak terpisahkan. Lembaga dakwah kampus, semestinya harus menjadi ujung tombak, pemberi harapan dan pendorong adanya cikal bakal generasi yang bukan saja menyelamatkan Sumatera Selatan dari kehancuran, tetapi  ia akan menyelamatkan Nusantara dan Dunia.
            Kita harus menciptakan iklim perubahan besar dunia, menyongsong harapan baru bagi masyarakat dunia. Sudah sepantasnya, perbedaan almamater dan ego perguruan tinggi harus kita nomor duakan, mari kita usung bersama satu hal, yaitu Kebangkitan dengan ISLAM. Betul, desakan hidup yang terus menggoda, membuat kita terpacu untuk berada dalam posisi berada. Maka tekanan kelulusan, harga pendidikan yang semakin mahal, lapangan kerja yang semakin menyesakkan serta tuntutan hidup adalah tantangan besar bagi kita hari ini.
            Memang apa yang diusung hari ini adalah sesuatu yang tabu. Menyelesaikan masalah dengan memperjuangkan syariah dan khilafah, seperti asing. Pengorbanan yang dibutuhkan pasti sangat besar. Pertentangan dengan ide Demokrasi dan Nasionalisme yang telah mengakar di negeri ini akan sangat terasa, perlawanan dari mereka yang mengusung dan mengatakan bahwa rasa NKRI akan sangat besar.
            Tapi peribahasa telah mengutarakan, “Payah dilamun ombak, tercapai juga tanah tepi” kan menemukan hasilnya jua.
Wahai Mahasiswa Muslim Sumatera Selatan!
            Anda datang ke sini, bukan menantikan kesenangan. Tapi Anda datang ke sini, kan membawa Pekerjaan Rumah bagi kampus-kampus dan wilayah Sumatera Selatan. Kita harus lebih giat lagi dalam seruan membangun kebangkitan islam. Karena saya yakin, Darah Sriwijaya yang BERANI ini akan mendidih, dan kelak saya yakin dari titik inilah Syariah Islam dan Khilafah akan datang. Allahu Akbar!
            Serulah kampus anda, dengan cara hikmah. Serulah kampus anda, dengan meniupkan suara kebenaran. Maka, ketok dan temuilah Lembaga Dakwah Kampus, Himpunan Mahasiswa, Badan Eksekutif, Badan Legislatif, sampai ke tataran Rektorat untuk mensinergiskan gerak menyongsong datangnya syariah dan Khilafah.
            Yakinlah setiap perjuangan untuk membangun dakwah ini, Allah kan menolong kita. Seruan itu sangat jelas,
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ$
Artinya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Maka, bergegaslah untuk menolong agama Allah ini. Memperjuangkan syariah dan khilafah, adalah bukti kesetiaan kita dalam menolong agama Allah yang mulia ini.
            Wahai Peserta Konferensi Mahasiswa Islam Sumatera Selatan!
            Kaum Intelektual Islam harus bangkit. Kita berperan besar menciptakan opini luar biasa untuk tegaknya syariah dan khilafah! Bagi Lembaga Dakwah Kampus, Anda adalah kartu troof yang sangat penting dalam menyongsong perubahan ini. Luruskan niat kita semua, hadapi, hayati dan nikmati setiap tantangan ini.
            Wahai juga para mahasiswa, bila kita tidak meluruskan perjuangan ini, tidak mengembalikan hak dunia untuk diterapkan syariah islam. Maka, seperti itulah Umar bin Khattab kan meluruskan bawahannya dengan menggoreskan tanda di tulang dengan pedang. Kalau kita tersibukkan dengan urusan dunia, maka dunia kan terus menganiaya. Kalau kita menyibukkan diri pada urusan Allah SWT, niscaya kan datang keberkahan dari langit dan bumi. Dunia menjadi tempat yang penuh berkah.
            KHILAFAH…KHILAFAH…KHILAFAH…
            Bukan lagi kita songsong Peradaban Barat, bukan lagi kita dambakan masyarakat Asia Timur, tapi kita berikan songsongan untuk penegakan syariah dan khilafah. Amerika serikat kan jatuh sebentar lagi, China dengan komunisnya tidak akan pernah memuncaki kejayaannya, Rusia dengan pola kapitalisme kan sirna juga, namun dari sini untuk dunia, melalui syariah dan khilafah!!!
Allahu Akbar!!!
* Disampaikan pada Konferensi Mahasiswa Islam Sumatera Selatan 2013
** Penulis, BE Kornas BKLDK, Aktivis Mahasiswa Nasional tinggal di Bandung. www.rizqiawal.com

1 comment:

  1. Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh

    Sebagai muslim saya sangat mendukung penegakan khilafah ini, tapi pertanyaan saya penegakan khilafah ini harus dimulai dari mana dulu? individu, negara atau apa. kalau saya berpikirnya, tanpa penegakan syariah sebetulnya setiap individu muslim sudah mengimplementasikan syariah islam dari dulu berdasarkan Al-qur'an dan hadist. Pikiran kedua saya, kalau dimulai dari negara, kemarin pendapat saya dibantah karena kesannya penerapan islam kok terlalu sempit. Pertimbngan saya, bilang dimulai dari negara karena hanya negara yg mampu menjalankan hukum, politik, ekonomi dll secara islam jadi bukan lagi jadi tanggung jawab individu. Jujur sampai sekarang saya masih bingung kalau seperti ini dimulai dari mana penegakan khilafah ini? atau dari individu trus kel kelompok baru ke negara dan selanjutnya kumpulan negara-negara yang melebur di bawah naungan khilafah islam.
    wassalamu 'alaikum

    ReplyDelete

Popular Posts